Tanda dan Gejala Batu Ginjal yang Perlu Dikenali

Gejala batu ginjal perlu dikenali dan ditangani sedini mungkin agar tidak berujung pada masalah kesehatan yang lebih serius.

Batu ginjal menjadi salah satu gangguan eliminasi urine yang umum dijumpai pada orang-orang berusia sekitar 30-60 tahun. Terbentuknya batu ginjal merupakan akibat dari banyaknya konten limbah di dalam urine ditambah dengan kondisi tubuh yang kekurangan asupan cairan.

Sering waktu, limbah-limbah yang mencakup mineral dan banyak zat lainnya tersebut berubah menjadi endapan kristal hingga menggumpal membentuk batu. Ukurannya bervariasi, dari yang sekecil pasir, seukuran kacang polong hingga sebesar bola pingpong.

Terdapat 4 jenis utama batu ginjal yang masing-masingnya memiliki perbedaan, baik dari bahan pembentuk ataupun penyebabnya. Diantaranya yakni, batu kalsium, batu struvit, batu asam urat dan batu sistin. Baca: Kenali Penyebab Batu Ginjal Berdasarkan Jenisnya

Apa saja gejala batu ginjal yang dapat dikenali?

gejala batu ginjal

Batu ginjal yang berukuran kecil dan tertahan di ginjal relatif tidak menimbulkan gejala. Namun bila sudah berukuran besar atau batu tersebut bergerak keluar dari ginjal melewati ureter, maka dapat menyebabkan timbulnya rasa nyeri, masalah buang air kecil, adanya darah dalam urine dan beberapa gejala lainnya seperti dijelaskan berikut.

1. Nyeri Hebat

Nyeri pada kasus batu ginjal dikenal dengan kolik ginjal – salah satu jenis nyeri paling parah yang bisa dibayangkan. Biasanya muncul secara tiba-tiba yang dimulai dari satu sisi punggung bagian bawah dan seringkali menjalar hingga ke selangkangan.

Berbeda dari nyeri otot, nyeri sebagai pertanda gejala batu ginjal ini tidak akan dipengaruhi oleh perubahan posisi tubuh, baik itu berdiri, menungging, duduk atau tiduran nyerinya akan tetap sama dan tidak akan hilang. Dalam banyak kasus kerap disertai pula dengan timbulnya rasa lemas, sakit kepala, mual hingga muntah akibat peningkatan asam lambung.

2. Nyeri Saat Buang Air Kecil

Pergerakan batu ginjal yang telah mencapai persimpangan antara ureter dan kandung kemih dapat menimbulkan gejala sakit saat buang air kecil (disuria). Sensasi nyerinya dapat berupa nyeri terbakar atau nyeri tajam seperti ditusuk-tusuk.

3. Sering Buang Air Kecil

Batu ginjal yang mengiritasi dinding kandung kemih akan menyebabkan otot kandung kemih berkontraksi secara berlebihan. Kondisi inilah yang lantas menimbulkan keinginan untuk kencing atau buang air kecil terus-menerus sekalipun kandung kemih belum penuh urine.

Setiap selesai buang air kecil, maka keinginan tersebut akan timbul kembali meski yang keluar hanya sedikit-sedikit.

4. Adanya Darah dalam Urine

Gejala batu ginjal ini disebut dengan hematuria, suatu kondisi yang ditandai oleh kehadiran sel-sel darah merah (eritrosit) dalam urine. Walhasil, warna urine yang normalnya berwarna kuning pucat hingga jernih, akan menjadi kemerahan atau sedikit kecoklatan.

Namun demikian, jika jumlah darah yang masuk ke dalam urine tidak begitu banyak, maka warna urine kemungkinan tidak akan berubah. Untuk memastikannya, maka perlu dilihat melalui mikroskop (hematuria mikroskopik).

5. Mual dan Muntah

Mual dan muntah tergolong gejala batu ginjal yang umum dialami penderitanya. Kondisi ini timbul akibat dari saraf otonom di pencernaan yang menerima rangsangan rasa nyeri yang hebat akibat pergerakan batu ginjal ke ureter. Membuat asam lambung naik, lalu tubuh pun meresponnya lewat mual dan muntah.

6. Demam dan Menggigil

Demam tinggi di atas 38°C disertai dengan menggigil menandai bahwa ginjal atau bagian lain dari saluran kemih telah mengalami infeksi. Kondisi ini dapat berujung pada komplikasi serius seperti bakterimia hingga kerusakan ginjal permanen bila tidak ditangani dengan segera.

Pengobatan batu ginjal yang dapat dilakukan

Untuk batu ginjal berukuran kecil, pengobatan yang dilakukan antara lain:

  • Minum banyak air putih sebanyak 2-3 liter setiap hari.
  • Membatasi asupan garam.
  • Konsumsi obat pereda nyeri seperti paracetamol, obat antiinflamasi non-steroid (ibuprofen, diklofenak atau indometasin) hingga obat golongan opioid untuk nyeri yang parah.
  • Obat penghambat reseptor alfa (alpha-blockers) untuk mempercepat keluarnya batu ginjal dari dalam tubuh.

Untuk batu ginjal berukuran besar, maka diperlukan prosedur penanganan medis lebih jauh seperti:

  • Extracorporeal shock wave lithotripsy (ESWL). Metode non-invasif (tanpa sayatan) menggunakan energi gelombang kejut yang ditembakkan dari luar tubuh  dengan alat khusus. Biasanya ditujukan untuk batu ginjal berukuran 5 mm-2 cm.
  • Percutaneous nephrolithotomy (PCNL). Seriing diistilahkan juga dengan ‘bor ginjal’ lantaran dilakukan dengan cara memasukkan alat khusus bernama nefroskop melalui sayatan beberapa milimeter di pinggang hingga menembus ginjal. Biasanya ditujukan untuk batu ginjal berukuran di atas 2 cm.

Prosedur lainnya yakni melalui uretroskopi hingga operasi kelenjar paratiroid untuk mengatasi hiperparatiroidisme – kelenjar paratiroid yang terlalu aktif. Pencegahan dilakukan dengan minum lebih banyak air putih setiap hari, konsumsi lebih sedikit makanan kaya oksalat, membatasi asupan garan serta mengurangi asupan protein hewani.

  • Stephanie Watson, Healthline. 2017. 8 Signs and Symptoms of Kidney Stones. Diakses Januari 2020.
  • Mayo Clinic Staff, Mayoclinic. 2019. Kidney stones, symptoms & causes. Diakses Januari 2020.
  • Karen Pallarito, Health. 2017. 7 Signs You Could Have Kidney Stones–and When to See a Doctor. Diakses Januari 2020.
  • Laura Newman, Verywellhealth. 2019. An Overview of Kidney Stones. Diakses Januari 2020.

Tinggalkan Komentar

#